7 Fakta Sekolah Jepang Yang Menarik Untuk Diketahui

Sekolah Jepang – Jepang saat ini menjadi salah satu negara dengan level pendidikan terbaik di dunia. Orang Jepang memiliki perhatian sangat tinggi pada pendidikan. Makanya jangan heran kalau angka putus sekolah di Jepang sangat rendah.

Seperti Indonesia, sekolah Jepang menganut sistem 6-3-3 atau 6 tahun shougakkou 小学校 (sekolah dasar), 3 tahun chuugakkou 中 学校 (sekolah menengah pertama), dan 3 tahun koukou 高校 (sekolah menengah atas).

Bedanya, angka pendaftaran sekolah menengah atas di Jepang sangat tinggi. Bahkan di kota-kota besar bisa mencapai 100% dan hampir separuh lulusannya melanjutkan ke universitas atau college. Banyak yang bisa dipelajari dari sekolah Jepang.

Nah, berikut ini beberapa fakta unik sekolah Jepang yang semoga bermanfaat bagi pembaca semua

1.Murid membersihkan sekolah sendiri

Di Indonesia biasa ada tukang kebun di tiap sekolah. Tapi kalian tidak akan mendapati tukang kebun atau petugas kebersihan di sekolah Jepang. Walaupun begitu, sekolah di Jepang selalu terjaga kebersihannya. Lalu siapa yang bertugas membersihkan kotoran?

Ternyata setiap hari siswa di Jepang dibiasakan membersihkan ruangan yang ada di sekolah. Kebersihan ruang kelas, ruang guru, toilet, gudang, maupun halaman sekolah menjadi tanggung jawab siswa. Secara bergiliran anak-anak membersihkan ruangan sekolah di pagi hari, istirahat, dan setelah jam sekolah.

Kebiasaan ini membuat mereka berlatih tanggung jawab dan akan dibawa sampai mereka dewasa.

2.Siswa belajar 6 jam sehari di sekolah

Jam sekolah di Jepang berbeda-beda di setiap levelnya. Makin tinggi tingkatannya, siswa bisa menghabiskan waktu di sekolah lebih panjang. Anak SD di Jepang hanya bersekolah dari jam 8.30 sampai 13.00. Sedangkan pelajaran di SMA Jepang bisa selesai sampai jam 19.00.

Baca Juga  Menjadi Mahir Dengan Ikut Kursus Bahasa Jepang di Jakarta

Setelah pulang sekolah, mereka tetap disibukkan dengan PR dan tugas sekolah. Kebiasaan sibuk sejak sekolah ini juga yang membentuk orang Jepang sebagai workaholic.

3.Tidak ada bus sekolah

Bus sekolah hanya digunakan di beberapa sekolah TK atau PAUD. Untuk membawa mereka ke sekolah, siswa Jepang terbiasa naik public transport seperti bus dan kereta.

Lokasi sekolah Jepang biasanya terletak di daerah strategis, sehingga bisa diakses dengan mudah. Sebagian siswa Jepang lainnya berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki dan naik sepeda.

4.Sepatu outdoor tidak boleh dipakai di dalam sekolah

Dalam banyak film animasi Jepang, mereka selalu menaruh sepatu di luar ruangan. Dan kebiasaan ini juga berlaku di sekolah Jepang. Untuk menjaga kebersihan, siswa Jepang terbiasa meninggalkan sepatu outdoor mereka di loker dan menggantinya dengan sepatu indoor.

5.Tidak tersedia guru pengganti

Sekolah di Jepang biasanya tidak menyediakan guru pengganti apabila guru asli berhalangan hadir. Tapi apakah siswa menghabiskan waktu dengan bermain? Jepang memiliki budaya disiplin tinggi, sehingga siswa tetap belajar mandiri walau tanpa kehadiran guru.

6.Siswa makan makanan yang sama

Siswa Jepang tidak diperbolehkan membawa makanan dari rumah. Semua siswa memakan makanan yang sama yang disediakan pihak sekolah. Sekolah benar-benar ingin menjamin makanan yang higienis dan sehat bagi siswanya. Karena itu, sekolah memiliki ahli gizi profesional yang akan menyediakan makanan bergizi bagi siswa.

7.Semua siswa pasti naik kelas

Siswa Jepang lumayan beruntung, karena mereka tidak akan mengalami tinggal kelas. Berapapun nilai ujian akhir, mereka akan naik ke kelas berikutnya. Tapi siswa Jepang terbiasa belajar keras karena hasil ujian akan menentukan saat mendaftar sekolah lanjutan atau untuk masuk universitas.

Baca Juga  8 Aplikasi Belajar Bahasa Jepang Terbaik 2019

Nah itu dia 7 fakta tentang sekolah Jepang. Negara ini memang memiliki tradisi pendidikan kuat untuk mencerdaskan warganya. Dan dengan SDM berkualitas tinggi ini, Jepang menjadi negara yang unggul di berbagai bidang. Bagaimana dengan kita? Bisakah kita mengejar level pendidikan Jepang?

(Visited 75 times, 1 visits today)

Leave a Reply